Soal Psikotes

3 Jenis Tes Logika Penalaran Psikotes Dan Contoh Soal

Tes logika penalaran psikotes adalah jenis tes psikotes yang dirancang untuk mengukur kecerdasan serta kemampuan berpikir logis seseorang. 

tes logika penalaran psikotes

tes logika penalaran psikotes – Di era yang maju ini, memiliki keterampilan teknis saja tidak cukup. Untuk mencapai puncak kesuksesan, keterampilan penalaran dan berpikir logis menjadi sama pentingnya.

Inilah yang diuji dalam tes logika penalaran, sebuah bagian penting dari serangkaian tes psikotes kerja. Tes ini tidak hanya memungkinkan perekrut (bagian HRD perusahaan) untuk menggali lebih dalam tentang kecerdasan kandidat, tetapi juga memberikan gambaran tentang kemampuan mereka untuk merumuskan solusi atau analisis yang logis dan efisien.

Namun, tes logika penalaran bukan sekedar tes biasa; ia memiliki bentuk dan tipe yang beragam—mulai dari tes logika umum, tes logika cerita, tes silogisme, hingga tes logika diagram. Kenali lebih lanjut tentang tes ini, dan tentu saja, cara-cara terbaik untuk menghadapinya. 

Apa Itu Tes Logika Penalaran Dalam Psikotes

Tes logika penalaran adalah jenis tes psikotes yang dirancang untuk mengukur kecerdasan serta kemampuan berpikir logis seseorang. 

Dalam konteks kerja, tes ini digunakan oleh pihak HRD atau perekrut untuk menilai apakah kandidat memiliki daya nalar yang tinggi dan mampu melakukan analisis yang baik. 

Jika Anda meraih skor tinggi dalam tes ini, itu menandakan bahwa Anda memiliki potensi besar dalam berpikir dan pemecahan masalah yang rasional.

Selain tes logika penalaran juga ada banyak jenis tes psikotes yang harus dipelajari jika ingin melakukan tes psikotes, jika anda belum baca silakan baca terlebih dahulu:

>>>>>>>99 Contoh Jenis Soal Psikotes Kerja, Jawaban dan Penjelasanya >>>>>>

Jenis-Jenis Tes Logika Penalaran Psikotes

1. Tes Logika Umum

Untuk menghadapi tes logika umum, Anda perlu memilih satu pernyataan yang paling logis dan paling tepat berdasarkan petunjuk atau konteks soal yang diberikan. Kunci untuk meraih skor tinggi di sini adalah dengan menghindari pilihan jawaban yang tidak relevan atau tidak sesuai dengan pernyataan dalam soal.

2. Tes Logika Diagram

Pada tes logika diagram, Anda akan dihadapkan dengan sebuah diagram yang perlu Anda interpretasikan terlebih dahulu. Setelah memahami diagram tersebut, pilih jawaban yang paling sesuai. Ingat, jawaban yang benar biasanya akan sejalan dengan pola atau hubungan yang ada dalam diagram.

3. Tes Analisis

Dalam tes logika Analisis, kemampuan Anda untuk fokus dan teliti sangat diuji. Bacalah cerita atau pernyataan dalam soal dengan seksama, lalu pilih jawaban yang paling sesuai. Untuk tipe tes ini, kemampuan membaca cepat dan akurat menjadi sangat penting.

Tipe Soal Penalaran Analitis memang berbeda dari jenis soal lainnya dan seringkali dianggap mengecoh atau “tricky.” Keterampilan penalaran yang baik adalah kunci untuk menjawab soal-soal ini dengan sukses.

Struktur

Soal penalaran analitis biasanya disajikan dalam bentuk teks yang diikuti oleh sejumlah pertanyaan. Strukturnya terdiri dari tiga komponen utama, yakni bagian pengantar, pembatas, dan soal.

  1. Pengantar: Di sini, masalah atau situasi yang menjadi fokus soal dijelaskan, apakah itu terkait dengan orang, tempat, atau aspek lain.
  2. Pembatas: Dalam teks, akan ada sejumlah kriteria atau batasan yang harus dipertimbangkan. Ini berlaku untuk semua pertanyaan yang merujuk pada teks yang diberikan.
  3. Soal: Umumnya, satu bacaan disertai dengan 3 hingga 7 pertanyaan. Harap diperhatikan bahwa batasan yang diberikan pada satu soal biasanya hanya berlaku untuk soal tersebut saja.

Alat Bantuan

Untuk menyelesaikan masalah atau pertanyaan yang diajukan dalam teks, beberapa alat bantu mungkin dibutuhkan:

  1. Logika Penalaran: Ini penting untuk memahami setiap pernyataan atau kriteria pembatas. Biasanya disampaikan dalam bentuk implikasi, seperti “jika A, maka B,” yang juga dapat diartikan dalam bentuk kontraposisi.
    1. Implikasi: Jika A, maka B. Kontraposisi: Jika tidak B, maka tidak A.
    2. Implikasi: Jika A, maka tidak B. Kontraposisi: Jika B, maka tidak A.
    3. Dan seterusnya.
  2. Diagram: Ini membantu dalam memvisualisasikan masalah, terutama ketika menentukan posisi atau urutan. Ada dua jenis posisi: tetap dan relatif.
    1. Contoh posisi tetap: A duduk di kursi nomor 3. Mata kuliah X diambil pertama.
    2. Contoh posisi relatif: A duduk di sebelah B. Mata kuliah X diambil setelah mata kuliah Y.

Dengan memahami struktur dan alat bantuan ini, Anda akan lebih siap untuk menghadapi dan menyelesaikan soal penalaran analitis.

4. Tes Deret

Deret Fibonacci

Deret Fibonacci adalah sebuah urutan angka di mana setiap angka diperoleh dari penjumlahan dua angka sebelumnya. Deret ini dimulai dari angka 0 dan 1, kemudian berlanjut dengan 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, dan seterusnya. Dengan kata lain, angka berikutnya dalam deret ini adalah hasil dari penjumlahan dua angka yang mendahuluinya.

Dalam konteks psikotes atau tes psikologi, Deret Fibonacci kadang digunakan dalam tes logika angka atau tes deret angka. Tes ini biasanya dirancang untuk mengukur kemampuan analitis dan penalaran matematis seseorang. Peserta tes akan diberikan sejumlah angka dalam suatu deret dan ditanya angka apa yang seharusnya muncul selanjutnya.

tes logika penalaran psikotes

Deret Larik

Dalam konteks psikotes, “deret larik” biasanya merujuk pada soal tes yang mengukur kemampuan logika, analitis, dan penalaran seseorang melalui urutan atau deret angka, simbol, atau objek lainnya. Tujuan dari soal jenis ini adalah untuk mengidentifikasi pola atau aturan yang mengatur deret tersebut, dan biasanya peserta akan diminta untuk menentukan elemen selanjutnya dalam deret.

Misalnya, jika diberikan deret angka seperti “2, 4, 6, 8,” peserta tes mungkin diminta untuk menentukan angka apa yang akan datang selanjutnya (yang dalam hal ini adalah 10, karena deret ini mengikuti pola penambahan 2).

tes logika penalaran psikotes
tes logika penalaran psikotes

Deret Tingkat

Deret tingkat atau sering juga disebut sebagai deret geometri adalah sebuah urutan angka di mana setiap angka diperoleh dengan mengalikan angka sebelumnya dengan suatu bilangan tetap, yang disebut sebagai “rasio”. Misalnya, deret 1, 2, 4, 8, 16 adalah sebuah deret tingkat dengan rasio 2.

Dalam deret ini, setiap angka adalah hasil dari angka sebelumnya dikalikan dengan rasio (dalam contoh di atas adalah  2). 

tes logika penalaran psikotes

Deret Huruf

Deret huruf adalah sebuah urutan huruf yang biasanya mengikuti pola atau aturan tertentu. Deret ini sering digunakan dalam tes psikologi atau psikotes untuk mengukur kemampuan penalaran, logika, dan kecerdasan verbal seseorang. Sama seperti deret angka, tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pola yang ada dan menentukan elemen (dalam hal ini, huruf) yang akan datang selanjutnya dalam deret.

Sebagai contoh, Anda mungkin menemukan deret huruf seperti “A, C, E, G,” dan ditanya huruf apa yang akan muncul selanjutnya. Dalam kasus ini, pola adalah penambahan 2 pada kode ASCII dari setiap huruf, sehingga huruf selanjutnya adalah ‘I’.

Deret huruf bisa menjadi lebih kompleks dengan melibatkan lebih dari satu jenis pola atau aturan, dan kadang-kadang bisa juga mencakup angka atau simbol lainnya.

tes logika penalaran psikotes

Tips:

Untuk sukses dalam soal tes deret angka dan huruf, peserta perlu memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pola logis dan keseragaman dari angka atau huruf yang disajikan. Meski kadang-kadang tampak seakan ada dua opsi jawaban yang benar, pada kenyataannya hanya satu jawaban yang tepat.

5. Tes Silogisme

Tes silogisme memerlukan Anda untuk menarik kesimpulan dari satu atau beberapa pernyataan. Di sini, logika dan analisis Anda diuji. Baca pernyataan-pernyataan dengan cermat dan coba tarik kesimpulan yang paling logis dari opsi yang diberikan.

BENTUK SILOGISME: 

Silogisme terbuat dari tiga proposisi (premis mayor, premis minor, dan kesimpulan). Setiap proposisi memuat paling sedikit dua dari tiga elemen (subjek, predikat, dan mediator). Kesimpulan ditemukan setelah memeriksa kedua premis tersebut.

Pedoman untuk mengidentifikasi premis mayor dan premis minor adalah sebagai berikut:

  • Premis mayor berlainan dari premis minor dan bisa juga menjadi fakta yang lebih spesifik dibandingkan dengan premis utamanya.

Contoh:

Tipe Premis mayor (PM) = Semua mamalia pasti menyusui

Tipe premis minor (Pm) = Semua kerbau adalah mamalia

Tipe Kesimpulan (K)= Semua kerbau pasti menyusui

Keterangan

  • kata Mamalia sebagai (M), kata Menyusui sebagai (P), kata Kerbau sebagai (S)
  • Identifikasi istilah tengah (yang di tandai M) adalah istilah yang terdapat baik pada premis utama/mayor maupun premis pelengkap/minor.
  • Di premis mayor, M berfungsi sebagai subjek (S), sementara dalam premis minor, M beroperasi sebagai predikat (P).
  • Anda bisa mengambil Kesimpulan dari dua isu jika ada M yang mengaitkan antara satu dengan yang lainnya. Tanpa M, kesimpulan tak bisa dihasilkan dari kedua isu itu.
  • M seharusnya tidak termuat dalam Kesimpulan.

Menghadapi tes logika penalaran memang memerlukan persiapan yang matang. Tidak hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan analitis dan kecepatan berpikir Anda diuji. Dengan memahami jenis-jenis tes dan cara menjawabnya, Anda akan lebih siap untuk menghadapi tes ini dan, tentu saja, lebih siap untuk memasuki dunia kerja yang kompetitif.

You may also like

error: Bercanda... !!